Gaya Hidup Berpolitik

Hujan interupsi mewarnai sidang di gedung DPR/MPR. Pemerintah berencana menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Kontroversi pun menguak. Hampir semua fraksi di DPR menghujat rencana pemerintahan SBY itu. Namun ada satu fraksi yang tanpa ragu-ragu mendukung kebijakan kenaikan harga BBM ini. Fraksi Partai Demokrat.

Kegigihan Fraksi Partai Demokrat menghadapi berbagai kritikan pedas, intrik politik di DPR terkait kebijakan pemerintah tak lepas dari kevokalan sosok yang satu ini. Dialah yang memimpin gerbong Fraksi Partai Demokrat di DPR, bernama Syarifuddin Hasan.

Politisi yang biasa disapa Syarief Hasan ini dilahirkan di Palopo pada 17 Juni 1946. Syarief merupakan sulung dari 10 bersaudara dari pasangan Muhammad Hasan dan Siti Asiah Bandie.

Ayahnya yang seorang ulama membuat kehidupan keluarga Syarief Hasan tak jauh dari nuansa religius.

Di sekolah, Syarief memiliki segudang prestasi. Bahkan bakat kepemimpinannya sudah tampak semasa remaja. Saat duduk di bangku SMA ia pernah menjadi ketua Persatuan Siswa atau yang disebut OSIS saat ini. Karena kepiawaiannya berorganisasi di sekolah yang mebuat Syarief diangkat menjadi Ketua I Persatuan Siswa SMA se-Sulawesi Selatan dan Tenggara.


Selepas menamatkan SMA tahun 1967, Syarief yang bercita-cita menjadi Tentara sejak kecil mulai berpikir juga untuk menjadi Insinyur. Baginya Insinyur adalah profesi yang menjanjikan bagi masa depan.

Syarief akhirnya diterima di Fakultas Teknik Jurusan Elektronika Universitas Hasanuddin (Unhas). Diterima di Unhas tidak membuat mimpinya menjadi tentara musnah begitu saja. Sekolah Elektronika Angkatan Laut (SEAL) Institut Teknologi Bandung memanggilnya. Namun takdir berkata lain. Syarief gagal dalam test tahap ke dua. “Obsesi jadi tentara boleh saja lepas, tapi jadi insinyur harus kesampaian.” Ujarnya.

Kuliahnya di Unhas tidak berjalan mulus. Syarief memiliki obsesi baru, yaitu kuliah di luar negri. Berkali-kali ia melayangkan surat permohonan beasiswa. Berkali-kali juga Syarief kecewa. Perjuangannya tak sia-sia, Syarief diterima untuk training pusat pelatihan rekondisi alat-alat berat terkemuka di Tokyo, Jepang.

Tiga tahun Syarief menimba ilmu di Jepang. Kabar yang tak terduga datang dari Jakarta. Syarief ditawari pekerjaan oleh United Tractors, sebuah anak perusahaan Astra. Sukses di karir Syarief mulai menapaki berwiraswasta.

Merasa sudah mapan Syarief memberanikan diri menikah pada tahun 1975 di Bandung. Dari pernikahannya pertamanya, Syarief dikaruniai tiga orang anak. Meski telah dianugrahi tiga orang anak bahtera rumah tangga pasangan ini kandas juga. Pertengahan 1988 Syarief bercerai.

Di tengah kepenatan akibat masalah perceraiannya, Syarief yang juga sudah mulai usahanya sendiri melanjutkan kuliah di Amerika. Sepulang dari Amerika Syarief mulai melebarkan lahan usaha yang ia bangun. Jadilah kini ia seorang pengusaha sukses.

Sebagai seorang pengusaha sukses Syarief mulai berpikir mencari pendamping hidup yang baru. Dengan niat yang suci, Syarief menikahi wanita yang terpaut jauh usianya dengan dirinya yang bernama, Ingrid Kansil pada 26 Juni 1999 di Cianjur, Jawa Barat. Bersama Ingrid Kansil yang juga dikenal sebagai presenter, Syarief dianugerahi seorang puteri bernama Ziankha Amorrette Fatimah Syarief.

Prestasinya di dunia bisnis yang mengayomi cukup banyak karyawan ternyata menimbulkan kepuasan tersendiri bagi dirinya. “Ditengah kondisi saya yang berkecukupan saya melihat masih banyak yang perlu uluran tangan. Saya tergerak untuk berpartisipasi langsung” kata Syarief yang mulai berpikir untuk terjun ke dunia politik.

Alasan inilah yang membuat Syarief ingin memberi hasil yang signifikan bagi masyarakat. Salah satu cara pikirnya saat itu adalah dengan terjun langsung ke dunia politik. “Kalau kita di luar kurang efektif. Tapi kalau kita di dalam dunia politik kita akan punya kontribusi langsung dan lebih efektif” cetusnya waktu itu.

Di waktu yang bersamaan seorang tentara bernama Susilo Bambang Yudhoyono dicalonkan menjadi Wakil Presiden untuk mendampingi Megawati. Meski tak berhasil naik menjadi Wakil Presiden, SBY nampaknya berhasil memikat hati Syarief waktu itu. “Ini dia sosok pemimpin yang paling cocok untuk Indonesia” gumamnya waktu itu.

Sekitar pertengahan Oktober 2001, Syarief mendapat telepon dari Wayan Sugiana yang mengajaknya bergabung ke sebuah partai politik. Syarief hanya menanyakan dua hal, nama partai dan siapa pendirinya. Wayan dengan lugas menjawab, Partai Demokrat dan SBY.

Mendengar nama SBY sontak Syarief tak berpikir lama lagi. Ia langsung sepakat untuk bergabung dengan Partai Demokrat yang mengusung SBY sebagai calon presiden waktu itu. Sebagai konsekuensinya terjun ke pentas politik Syarief memang harus meninggalkan dunia bisnis yang selama ini membesarkannya dan total terjun ke dunia politik.

Sukses mengantar SBY ke kursi presiden membuat Syarief dan Partai Demokrat harus menahan cibiran miring bahkan kritik pedas dari lawan politik terkait kebijakan pemerintah. Meskipun begitu Syarief tak bergeming. Baginya apa yang sudah dijalankan oleh Pemerintah saat ini merupakan yang terbaik di pemerintahan sebelumnya.

“Apa yang pemerintahan SBY lakukan saat ini sudah di track yang benar dan proses yang benar.” Kata Syarief. Untuk itu dirinya menambahkan yang pertama harus ia dan partainya lakukan adalah mengawal kebijakan pemerintah. Karena Syarief yakin kebijakan pemerintah ditujukan untuk kesejahteraan rakyat.

“Kebijakan pemerintah saat ini juga merupakan kontribusi dari Partai Demokrat. Jadi yang penting bagi saya adalah mengawal kebijakan itu karena kebijakan itu adalah untuk mensejahterakan rakyat” tambah Syarief yang ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu.

“Pertama kita lihat pertumbuhan ekonomi masih di atas rata-rata. Itu juga parameter untuk melihat prestasi pemerintah saat ini. Kita harus mensyukuri kondisi bangsa saat ini” tambahnya.

Kini Syarief bersama Partai Demokrat menatap Pemilu 2009 dengan keyakinan yang mantap untuk berbuat lebih banyak kepada rakyat. Di Pemilu nanti dirinya berharap tak ada lagi partai yang mendukung pemerintah namun bersikap seolah-olah seperti oposisi.

“Etika politiknya tidak jelas. Kalau mendukung pemerintah dia harus total dengan konsekuensinya. Jangan ada lagilah seperti itu nanti.” Harap politisi yang sangat mencintai keluarga ini.

Pemilu 2004 yang telah berhasil mengantarkan Syarief duduk di bangku parlemen membuat Syarief masih ingin memberikan sumbangsihnya bagi masyarakat. Selain menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR-RI, Syarief juga menjabat sebagai Wasekjen DPP Partai Demokrat. Syarief pun kembali mencalonkan diri sebagai calon anggota parlemen di Pemilu 2009 nanti.

“Saat ini program yang ada seperti UMKM, Kredit Untuk Rakyat (KUR) sudah bagus dijalankan oleh pemerintah. Jadi perlu ditingkatkan. Inilah yang akan menjadi fokus saya jika terpilih lagi di 2009. Pembinaan sektor riil, ekonomi menengah ke bawah” Ujar pria yang memiliki hoby bermain tenis ini.
“Beri kami satu periode lagi” tegas Syarief dengan yakin.

Dibalik segudang kegiatannya di dunia politik ternyata Syarief seorang sosok yang sangat mencintai keluarga. Baginya keluarga memiliki peran vital dalam penunjang dalam karirnya di dunia bisnis dan politik

Bagi lelaki yang memiliki filosofi hidup menyerahkan segala urusan kepada Tuhan ini, keluarga melengkapi kehidupannya. “Jika kehilangan keluarga maka kita akan kehilangan hidup kita” ujarnya di akhir wawancara 69++

0 komentar:

Poskan Komentar

 
© Copyright by 69plusplus Magazine  |  Template by Blogger